YTI Al-Falah — Yayasan Tarbiyah Islamiyah Al-Falah

Artikel

BerandaArtikelDIABETES TIPE 2 PADA ANAK MENINGKAT 70 KALI LIPAT
DIABETES TIPE 2 PADA ANAK MENINGKAT 70 KALI LIPAT
Artikel

DIABETES TIPE 2 PADA ANAK MENINGKAT 70 KALI LIPAT

Irfan Hasuki21 September 2026Dibaca 41 kali
Bagikan:

Dulu, diabetes adalah penyakit orang usia 40 tahun ke atas. Sekarang anak SD usia 7 tahun sudah banyak yang kena. Data Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) & Kemenkes: Kasus diabetes anak naik 70 KALI LIPAT

Januari 2010 0,028 per 100.000, anak menderita diabetes. Januari 2023, 2 dari 100.000 anak menderita diabetes. Tercatat 1.645 anak di 13 kota besar (Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan, dll) menderita diabetes. Usia paling banyak adalah anak usia 10-14 tahun (46,23%), disusul anak usia 5-9 tahun (31,5%). Jika dilihat, usia ini adalah usia anak sekolah kelas 3 SD sampai kelas 2 SMP.

Yang bikin kaget, diabetes tipe 2 yang dulu 0% (anak), sekarang sudah 5-10% anak menderita diabetes dan akan terus naik. 77% di antaranya adalah anak yang mengalami obesitas. Ketua PP IDAI, Dr. Piprim Basarah Yanuarso dalam sebuah kesempatan mengungkapkan, "Dulu DM tipe 2 penderita adalah orang 40 tahun ke atas. Sekarang sudah diderita anak 6-7 tahun. Ini wake up call."

Kenapa anak SD-SMP sekarang terkena diabetes tipe 2? Bisa karena genetik atau keturunan, bisa juga karena resistensi insulin akibat mengonsumsi gula berlebihan. Banyak sekali anak sekarang yang mengonsumsi gula berlebihan dan tidak dibarengi aktivitas fisik yang cukup untuk membuang kalori.

Ada 7 faktor yang dapat membuat pankreas “bosan” memproduksi insulin karena begitu banyaknya zat gula yang masuk ke tubuh.

1. Minuman Manis Kemasan
Minuman manis kemasan baik yang di sasetan, gelas, maupun botol umumnya mengandung 15-25 gram gula. Sementara batas anak mendapatkan asupan gula hanya 25 gram perhari. Sekali minum saja kebutuhan gula sudah terpenuhi. Nah jika anak minum minuman manis kemasan 2-3 kali dalam sehari tentu sudah sangat berlebihan. Belum lagi asupan gula dari nasi, kue, susu, buah, dan lainnya. Kelebihan asupan ini membuat pankreas kerja lembur 365 hari nonstop untuk mengeluarkan insulin demi menetralisir kadar gula dalam tubuh.

2. Kurang Gerak "Generasi Rebahan"
Dulu, sepulang sekolah anak melakukan banyak aktivitas fisik. Ada yang main sepakbola, petak umpet, sepeda, bulu tangkis. Sekarang, pulang langsung nyamber HP. Rebahan berjam-jam sambil lihat HP. Padahal, gula (kalori) yang masuk harus dibakar lewat aktivitas fisik. Kalau tidak dibakar, jadi lemak di perut. Lemak perut inilah yang bikin sel resisten insulin.

3. Jarang Olahraga Terstruktur
Anak sekarang olahraga cuma pas pelajaran PJOK. Itupun hanya 1x seminggu. Padahal World Health Organization (WHO) menyarankan, anak usia 5-17 tahun harus gerak aktif minimal 60 menit/hari. Sementara data yang didapat IDAI, rata-rata anak-anak, terutama di perkotaan, bergeraknya cuma 15-20 menit.

Stop dari sekarang kegemaran anak minum minuman manis kemasan

4. Jarang Minum Air Putih, Banyak Minum Berwarna
Ini yang sering disepelekan. Banyak anak SD bawa bekal teh kotak, bukan air putih. Akibatnya, dehidrasi ringan yang membuat otak mengira lapar, lalu ngemil makanan manis. Asupan gula pun berlebihan lagi. Hal ini pun membuat ginjal bekerja ekstra keras untuk memisahkan gula dan protein. IDAI pernah melakukan skrining, ditemukan 1 dari 5 remaja usia 12-18 tahun sudah ada protein di urinnya. Ini adalah gejala awal ginjal bocor karena gaya hidup yang tidak sehat.

5. Ultra-Processed Food (UPF) & Junk Food
Beberapa makanan cepat saji bisa memicu diabetes. Seperti sosis bakar, nugget, mie instan, keripik kentang, dan burger. Dengan rasa yang gurih makanan ini kerap menjadi makanan kesukaan anak. Dr. Piprim bilang, makanan ini punya glycemic index tinggi dan rasanya adiktif. Anak kenyang karbohidrat olahan, bukan serat. Seratnya nol, gulanya tinggi.

6. Kurang Tidur & Begadang Gadget
Banyak anak yang kurang tidur karena begadang. Saat ini, yang biasa mereka lakukan saat begadang adalah bermain-main dengan gadget, nge-game, mabar, nonton TikTok, streaming, dan lainnya. Pada anak yang kurang tidur hormon lapar (ghrelin) meningkay sehingga ia akan lebih banyak makan. Disamping itu, sensitivitas insulinnya menurun 30% dalam semalam.

7. Pola Asuh "Gemuk = Sehat" & Stress
Orang tua masih bangga anak gemuk, tandanya sehat dan makmur. Padahal lemak berlebih di leher dan ketiak yang menghitam (acanthosis nigricans) itu tanda pra-diabetes. Jika anak kerap mengalami stress karena banyaknya tugas sekolah, hormon kortisol naik, gula darah ikut naik.

Ada 5 tanda anak yang mengalami Pra-Diabetes:

1. Banyak Minum. Haus terus meski sudah minum banyak.

2. Banyak Pipis, biasanya sering ke toilet, ngompol lagi padahal sudah tidak ngompol sejak lama.

3. Berat Turun/Naik Drastis. Jika anak makan banyak tapi berat turun (tipe 1) atau berat naik cepat (tipe 2).

4. Bekas Hitam di leher, ketiak, selangkangan. Menghitam tebal yang tidak hilang digosok.

5. Buram dan Lemas. Anak mengeluh penglihatannya kabur, luka susah sembuh, gampang capek. Kalau ada 2 dari ini, segera cek HbA1c ke Puskesmas. Normal <5,7%, pra-diabetes 5,7-6,4%, diabetes >=6,5%.

Sebelum 5 B di atas muncul, lakukan 5 pencegahannya.

1. Terapkan rumus 1-2-3: 1 minuman manis maksimal 2x seminggu, 3 botol air putih 600ml wajib habis di sekolah

2. Gerak 60 menit: Gak harus futsal, jalan kaki pulang sekolah, beres-beres rumah, lompat tali dihitung. Jangan sampai rumah langsung ambil HP kemudian rebahan sampai sore.

3. Bawa bekal dari rumah: Bawa air putih + buah potong, bukan uang jajan Rp20.000. Dengan begitu asupan anak di sekolah dapat terkontrol.

4. Tidur jam 9: HP dikumpulin di ruang tamu, tidak boleh bawa HP ke kamar agar anak sudah siap tidur jam 20.30.

Diabetes tipe 2 pada anak itu bukan takdir, tapi akumulasi kebiasaan harian. Sekali kena, obatnya seumur hidup.