YTI Al-Falah — Yayasan Tarbiyah Islamiyah Al-Falah

Artikel

BerandaArtikelTaklim Rabu Malam Masjid Jami Al-Falah: Perintah Langsung Allah untuk Birrul Walidain
Taklim Rabu Malam Masjid Jami Al-Falah: Perintah Langsung Allah untuk Birrul Walidain
Artikel

Taklim Rabu Malam Masjid Jami Al-Falah: Perintah Langsung Allah untuk Birrul Walidain

Irfan Hasuki29 Oktober 2026Masjid Al-Falah dan LYADibaca 10 kali
Bagikan:

YTI-ALFALAH.ID Rabu (28/10/26), setelah sholat Maghrib, di Masjid Jami’ Al-Falah diaksanakan taklim dengan kitab Tafsir Maroh Labib (Tafsir Munir) karya Syeikh Nawawi Albantani. Dalam taklim kali ini tema yang diangkat adalah Birrul Walidain dan Penanama Muraqabah.

Dalam taklim kali ini, KH. Ahmad Shopi, guru taklim, menguraikan tafsir Surat Luqman ayat 14-16.

Perintah Langsung Birrul Walidain
Ayat 14 Allah memerintahkan Birrul Walidain:

"Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu." (QS. Luqman: 14)

Terhadap ayat ini, Syeikh Nawawi Albantani, menjelaskan bahwa perintah berbakti kepada orang tua datang langsung setelah perintah untuk mentauhidkan Allah. Ini menunjukkan kedudukan birrul walidain yang sangat agung dalam Islam.

Alasan utamanya disebutkan secara eksplisit dalam ayat, yaitu pengorbanan ibu, wahnah 'ala wahnin yakni kelemahan di atas kelemahan. Seorang ibu menanggung beban yang terus bertambah, mulai dari mengandung, melahirkan dengan taruhan nyawa, hingga menyusui selama dua tahun penuh.

Pengkhususan penyebutan ibu dalam ayat ini bukan untuk mengesampingkan ayah, melainkan untuk menegaskan besarnya jasa ibu yang sering kali terlupakan. Dari sinilah para ulama menyimpulkan mengapa Rasulullah SAW menyebut ibu tiga kali sebelum ayah ketika ditanya siapa yang paling berhak mendapat perlakuan terbaik.

Korelasi Syukur kepada Allah dan kepada Orang Tua

Pada akhir ayat 14, Allah berfirman: "Anisykur li wa liwalidaik" yang artinya bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu.

KH. Ahmad Shopi menjelaskan, menurut para mufasir bahwa terdapat korelasi yang tidak terpisahkan antara syukur kepada Allah dan syukur kepada orang tua. Imam Asy-Syaukani dalam tafsirnya menyebutkan bahwa syukur kepada Allah diwujudkan dengan melaksanakan shalat lima waktu, sedangkan syukur kepada orang tua diwujudkan dengan mendoakan dan berbuat baik kepada keduanya setelah shalat.

Keduanya merupakan satu kesatuan ibadah yang akan dihisab di hari akhir. Seorang hamba tidak dikatakan telah sempurna syukurnya kepada Allah jika ia durhaka kepada orang tuanya. Sebagaimana ketaatan kepada Allah menjadi sebab keselamatan akhirat, maka bakti kepada orang tua menjadi sebab keberkahan hidup di dunia.

Batasan Tegas Ketaatan kepada Orang Tua

Kajian kemudian dilanjutkan pada ayat 15:

"Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya..." (QS. Luqman: 15)

Ayat ini memberikan batasan yang sangat tegas. Ketaatan kepada orang tua adalah wajib dalam perkara ma'ruf, namun menjadi gugur apabila orang tua memerintahkan kepada kesyirikan atau kemaksiatan.

KH. Ahmad Shopi menekankan kaidah fikih: La tha'ata limakhluqin fi ma'shiyatil Khaliq, Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Sang Pencipta.

Namun demikian, lanjutan ayat tersebut memberikan pelajaran akhlak yang luhur: "wa shahibhuma fid-dunya ma'rufan" dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik. Penolakan terhadap perintah syirik tidak menggugurkan kewajiban anak untuk tetap merawat, menafkahi, berlemah lembut, dan menemani orang tua dalam kehidupan dunianya. Islam membedakan antara ketaatan dalam akidah dengan kewajiban ihsan dalam muamalah.

Prinsip Pengawasan Mutlak (Muraqabah)

Puncak dari pendidikan Luqman kepada anaknya terdapat pada ayat 16:

"(Luqman berkata): 'Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui." (QS. Luqman: 16)

Melalui perumpamaan habbah min khardal (biji sawi), Luqman Al-Hakim menanamkan prinsip muraqabatullah kepada anaknya. Inilah hakikat pengawasan mutlak.

Tafsir ini menjelaskan bahwa ayat ini mengandung tiga dimensi tempat persembunyian yang paling mustahil dijangkau manusia: di dalam batu yang paling keras dan terdalam, di ketinggian langit, atau di kedalaman perut bumi. Jika manusia saja tidak mampu menemukannya, Allah pasti akan mendatangkannya.

Tidak ada amal sekecil apa pun, baik kebaikan maupun keburukan, yang luput dari ilmu Allah. Sifat Allah Al-Lathif (Maha Halus) menunjukkan bahwa ilmu-Nya menjangkau hal yang paling tersembunyi, dan Al-Khabir (Maha Mengetahui) menunjukkan bahwa tidak ada yang terlewat dari perhitungan-Nya.

Prinsip inilah yang seharusnya menjadi pengendali perilaku seorang mukmin. Bukan karena takut kepada manusia, melainkan karena yakin bahwa Allah Maha Melihat.

Informasi Kajian Rutin Masjid Jami Al-Falah:
📖 Kitab Tafsir Maroh Labib (Tafsir Munir)r oleh KH. Ahmad Shopi
🗓 Setiap Hari Rabu - Ba’da Sholat Maghrib
📍 Masjid Jami’ Al-Falah

Ikuti dan syiarkan kegiatan Masjid Jami’ Al-Falah melalui:
📲 WA Channel: s.id/mjaf-WAc
📸 Instagram: s.id/mjaf-IG