
Anak Ngegame Kelamaan, Bisa Memicu Kejang
YTI-ALFALAH.ID Banyak yang mengira kejang-kejang atau serangan epilepsi karena main HP itu mitos, padahal jawabannya bisa. Bukan gamenya yang bikin kejang, tapi cara otak kita merespons cahaya dan lelah.
Kondisi ini punya nama medisnya, yaitu photosensitive epilepsy. Seperti yang sering dijelaskan dr. Faldi di kontennya @dokterfaldi, beberapa orang memang punya korteks visual yang lebih reaktif terhadap cahaya berkedip. Jadi saat layar game menampilkan kilatan cepat, perubahan warna kontras, dan perpindahan scene yang intens, aktivitas listrik di otaknya bisa jadi kacau dan memicu kejang secara tiba-tiba. "Main game itu boleh, tapi otak kamu punya batasnya sendiri," kata dr. Faldi.
Lalu kenapa durasi jadi penting? Karena semakin lama kita menatap layar dengan intensitas tinggi, otak semakin lelah. Ditambah kalau mainnya di ruangan gelap dengan brightness penuh dan jarak layar terlalu dekat, stres visualnya makin besar. Dr. Faldi sendiri menekankan bahwa penggunaan gadget berlebihan itu memicu tiga hal sekaligus: kelelahan otak, gangguan tidur, dan stres visual.

Dan faktor yang paling sering diremehkan adalah kurang tidur. Ini adalah pemicu kejang nomor satu. American Epilepsy Society menyebut kurang tidur bisa memicu kejang bahkan pada anak sehat yang rentan, apalagi pada yang memang sudah punya risiko epilepsi. Kebiasaan push rank sampai larut malam itulah yang diam-diam paling berbahaya, bukan sekadar gamenya.
Anak-anak dan Remaja Paling Berpotensi
Lantas siapa yang paling berpotensi? Risikonya paling besar ada pada anak dan remaja usia 7 sampai 19 tahun karena otak mereka masih sangat sensitif. Begitu juga pada orang yang memang punya bakat fotosensitif, yang jumlahnya sekitar 1 dari 4000 orang. Sebuah studi di Brain and Development Journal tahun 2025 yang meneliti 94 pasien anak juga menemukan bahwa anak dengan fotosensitif lebih mudah menunjukkan kelainan EEG saat bermain video game.
Supaya tetap bisa nge-game dengan aman, dr. Faldi memberikan tiga kebiasaan sederhana yang bisa langsung kamu lakukan: 1. Jaga jarak layar minimal 50 cm dari wajah. 2. Aktifkan mode gelap atau turunkan brightness. 3. Istirahat setiap 20 menit. Istirahatnya bukan cuma untuk mata, tapi untuk otak.
Intinya, kita tidak perlu takut berlebihan dengan game, tapi harus belajar mendengarkan sinyal dari tubuh. Kalau mata sudah mulai kedutan, kepala pusing berat, atau pandangan kabur, itu tanda otak butuh jeda. Jangan main di kamar gelap total, pastikan ruangan tetap terang, dan beri batas tegas untuk tidak main gadget satu jam sebelum tidur. Jika setelah main game ada gejala seperti tatapan kosong, tangan kaki bergetar tanpa kendali, atau sempat tidak sadar, jangan tunda untuk ke dokter saraf.
Game boleh jadi hobi, tapi tidur dan otak harus tetap jadi prioritas.

