YTI Al-Falah — Yayasan Tarbiyah Islamiyah Al-Falah

Berita

BerandaBeritaWaspada, Mainan Squishy Water Injection Berbahaya Buat Anak
Waspada, Mainan Squishy Water Injection Berbahaya Buat Anak
Berita

Waspada, Mainan Squishy Water Injection Berbahaya Buat Anak

Irfan Hasuki26 Oktober 2026Dibaca 1 kali
Bagikan:

YTI-ALFALAH.ID Awalnya hanya sebuah video pendek. Seorang anak di Bekasi Timur ketahuan membawa pulang mainan baru dari pedagang di depan sekolahnya: sebuah squishy berbentuk dumpling yang gemoy, berwarna pink dan ungu, lengkap dengan sebuah alat suntik.

Tidak lama setelah itu, video yang sama muncul dari Banten. Seorang guru MI menemukan anak-anak kelas 3 sedang bermain kejar-kejaran di dalam kelas, sambil menyemprotkan air dari suntikan itu ke teman-temannya. Ada yang nangis karena kena mata. Ketika ditanya, anak-anak itu menjawab polos, "Beli Rp 3.000 di depan sekolah, Bu."

Lalu muncul lagi kesaksian dari Jakarta Barat. Seorang tante bernama Dhanti melihat keponakannya membeli mainan yang sama pada September lalu. Isinya satu paket: satu buah squishy dan satu buah spuit dengan jarum yang bertuliskan "DISCARD AFTER USE" — tulisan yang biasanya ada di alat suntik medis sekali pakai.

Tiga daerah, tiga cerita yang sama. Dan pertanyaan yang sama pula yang muncul di kepala semua orang tua: kenapa mainan anak bisa dilengkapi dengan jarum suntik?

Mainnya Harus Pakai Suntikan

Jawabannya sederhana, dan justru di situlah bahayanya. Suntikan itu bukan hiasan, tapi memang cara mainnya. Squishy jenis ini disebut water injection squishy. Di dalamnya ada ruang kosong. Agar bentuknya bisa mengembang, kembali kenyal, dan terasa empuk setelah diremas-remas, anak harus menyuntikkan air ke dalamnya menggunakan spuit. “Tanpa suntikan, squishy itu akan kempes dan tidak asyik lagi dimainkan,” begitu kata seorang ibu yang merazia mainan tersebut dari anaknya.

Produsen memilih menggunakan alat suntik medis asli, bukan mainan plastik biasa, karena murah dan gampang didapat dalam jumlah besar. Satu spuit medis harganya tidak sampai seribu rupiah kalau dibeli grosir. Jauh lebih murah daripada membuat cetakan suntikan mainan sendiri yang aman.

Itulah ironi terbesarnya, demi membuat mainan yang terlihat lucu dan interaktif, produsen justru memasukkan benda yang paling tidak boleh ada di tangan anak-anak.

Padahal jarum suntik medis itu dirancang untuk menembus kulit manusia. Walaupun sebagian pedagang mengklaim jarumnya sudah tumpul, di video-video yang beredar terlihat jelas jarum itu masih tajam dan bisa menggores kulit. Di tangan anak usia 7-9 tahun yang bermain sambil berlari dan bercanda, risiko tertusuk itu bukan lagi kemungkinan, tapi soal waktu.

Suntikan yang digunakan bisa melukai dan tertular penyakit

Berisiko Tertusuk dan Tertular Penyakit

Banyak orang tua hanya fokus pada jarumnya. Padahal ada dua lapisan bahaya yang bekerja bersamaan dalam mainan ini.

Risiko pertama adalah infeksi: Ketika orang tua di Bekasi melihat tulisan "DISCARD AFTER USE" di spuit itu, kekhawatiran mereka langsung naik. Kalau jarum itu bekas pakai, kita tidak pernah tahu bekas siapa dan bekas apa. Jarum bekas bisa menjadi jalur penularan penyakit serius seperti HIV, hepatitis B, dan hepatitis C. Tidak ada yang bisa menjamin spuit yang dijual seharga Rp 3.000 itu steril dan baru.

Risiko kedua adalah bahan kimianya. Squishy dumpling yang viral ini memang sedang menjadi sorotan global. Di Amerika, Komisi Keamanan Produk Konsumen menarik 15.200 unit squishy pada September 2026 karena di dalamnya ada water beads yang bisa mengembang di dalam perut anak kalau tidak sengaja tertelan, menyebabkan tersedak hingga penyumbatan usus. Di Inggris, squishy yang sama ditarik karena ditemukan kandungan benzena mencapai 20 mg/kg., empat kali lipat dari batas aman 5 mg/kg. Benzena itu adalah zat karsinogenik Grup 1, artinya terbukti bisa memicu kanker, iritasi pernapasan, dan gangguan hati jika terus terhirup atau tertelan.

Di Indonesia sendiri, sejumlah ahli dan media sudah memperingatkan hal yang sama. Dalam siaran BeritaSatu, disebutkan bahwa squishy mengandung DMF, amina, dan benzena. Zat-zat ini tidak langsung membuat anak sakit hari ini, tapi efeknya bisa menumpuk. Ada orang tua yang mengeluh anaknya bentol-bentol dan alergi setelah cairan putih dari squishy yang pecah mengenai pipi. Ada juga yang mengeluh bau menyengatnya membuat anak sesak.

Jadi bayangkan, anak tidak hanya bermain dengan jarum yang tajam, tapi juga meremas, mencium, dan bahkan menggigit mainan yang bahannya bisa mengeluarkan zat berbahaya. Itu adalah kombinasi yang paling tidak ideal untuk sebuah mainan anak.


Kok Bisa Bisa Dijual Bebas di Depan Sekolah?

Jawabannya ada pada celah pengawasan yang sudah lama ada di Indonesia. Mainan yang dijual pedagang kaki lima di depan sekolah biasanya tidak melalui jalur distribusi resmi. Mereka dibeli dari pasar grosir, dari toko online, atau dari importir tanpa sertifikasi SNI. Tidak ada yang memeriksa apakah bahan kimianya aman, apakah jarumnya layak, atau apakah mainan itu memang untuk anak.

Sekolah sendiri sering berada dalam posisi yang sulit. Gerbang sekolah adalah wilayah yang ramai dan terbuka. Pedagang bisa datang dan pergi, pindah dari satu sekolah ke sekolah lain. Seperti yang terjadi di Banten, ketika guru datang, pedagangnya sudah kabur ke sekolah lain. Pengawasan sekolah hanya bisa sampai gerbang, tidak sampai ke jalanan tempat pedagang itu mangkal.

Ditambah lagi, anak-anak membeli dengan uang jajan mereka sendiri. Tidak ada orang dewasa yang mendampingi saat transaksi terjadi. Anak melihat temannya punya, dia ikut ingin punya. Di usia SD, rasa ingin sama dengan teman lebih kuat daripada rasa takut akan bahaya. Orang tua baru tahu setelah mainannya sudah sampai di rumah, atau bahkan setelah viral di media sosial.

Ini bukan semata-mata salah sekolah atau salah orang tua. Ini adalah bukti bahwa sistem pengawasan mainan anak di Indonesia masih longgar, terutama untuk mainan impor murah yang beredar di pasar informal.

Suntikan yang digunakan adalah bekas pakai. Sebab harganya jauh lebih murah
Ini Empat Kriteria Mainan Anak yang Aman

Kriteria mainan yang aman itu tidak rumit. Kalau kita bisa mengingat empat hal ini, kita sudah bisa menyaring 90 persen mainan berbahaya di luar sana.

Pertama, mainan yang aman tidak memiliki bagian yang tajam, kecil, dan mudah lepas. Jarum, paku, baterai kancing, atau mata boneka yang mudah dicopot adalah tanda bahaya. Mainan untuk anak di bawah 12 tahun seharusnya tidak bisa melukai kulit jika diremas atau dijatuhkan.

Kedua, bahannya harus jelas dan tidak berbau menyengat. Mainan yang baik biasanya terbuat dari silikon food-grade, karet natural, atau plastik yang sudah bersertifikasi SNI dan tidak mengandung ftalat. Kalau mainan baru dibuka saja sudah membuat ruangan bau kimia, itu adalah tanda pertama bahwa bahan kimianya tidak aman.

Ketiga, harus ada label usia dan produsen yang jelas. Mainan yang aman selalu mencantumkan usia yang disarankan, bahan yang digunakan, dan cara pemakaian. Kalau bungkusnya polos, tanpa merk, tanpa alamat produsen, tanpa label SNI, sebaiknya jangan dibeli.

Dan keempat, mainan yang aman harus mengajak anak untuk berkreasi, bukan hanya untuk meniru orang dewasa. Mainan suntikan ini justru mengajarkan anak untuk meniru tindakan medis yang seharusnya hanya dilakukan oleh tenaga profesional. Anak jadi berpikir bahwa menyuntik itu adalah permainan.

Sekolah dan Orang Tua Perlu Lakukan Hal Ini

Tidak ada gunanya hanya menyalahkan pedagang. Yang harus kita lakukan sekarang adalah menutup celah dari dua sisi, sekolah dan rumah.

Di sekolah, guru dan kepala sekolah bisa mulai dengan membuat zona aman di sekitar gerbang. Melarang pedagang berjualan di radius 50 meter dari gerbang saat jam pulang, memasang pengumuman di papan, dan yang terpenting, mengedukasi anak-anak langsung di kelas. Seperti yang dilakukan guru di Banten, menegur saja tidak cukup. Anak-anak harus tahu kenapa mainan itu berbahaya, dengan bahasa yang mereka pahami.

Orang tua di rumah juga punya peran yang sama besarnya. Jangan langsung melarang dan menyita tanpa penjelasan, karena anak hanya akan membeli lagi secara sembunyi-sembunyi. Coba periksa tas dan mainan anak setiap pulang sekolah, tanyakan dari mana dia dapat mainan itu, dan ajak dia melihat video-video edukasi tentang bahaya jarum suntik. Yang paling penting, ajak anak untuk memilih mainan pengganti yang sama seru tapi aman, seperti squishy tanpa jarum, slime yang bersertifikat, atau mainan sensory lain yang memang dirancang untuk anak.

Kasus squishy suntikan ini seharusnya menjadi alarm. Alarm bahwa mainan yang terlihat lucu di depan sekolah, yang harganya hanya Rp 3.000, ternyata bisa menyimpan bahaya yang jauh lebih mahal: infeksi, trauma, dan paparan zat kimia yang tidak kita sadari.

Anak kita memang harus bermain. Tapi bermain tidak seharusnya membuat mereka takut, terluka, atau sakit. Tugas kita sebagai orang dewasa adalah memastikan bahwa keceriaan mereka tidak dibayar dengan keselamatan mereka.