YTI Al-Falah — Yayasan Tarbiyah Islamiyah Al-Falah

Berita

BerandaBeritaMaulid Muslimat Masjid Jami Al-Falah: Rasulullah Sebenar-benar Panutan
Maulid Muslimat Masjid Jami Al-Falah: Rasulullah Sebenar-benar Panutan
Berita

Maulid Muslimat Masjid Jami Al-Falah: Rasulullah Sebenar-benar Panutan

Irfan Hasuki12 Oktober 2026Masjid Al - Falah dan LYADibaca 33 kali
Bagikan:

YTI-ALFALAH.ID Muslimat Masjid Jami Al-Falah, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, menggelar peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H pada Minggu, 11 Oktober 2026. Acara dimulai pukul 08.00 WIB hingga selesai. Acara berlangsung khidmat dan dihadiri jamaah dari berbagai mejelis taklim muslimat di lingkungan kelurahan Sukabumi Selatan dan sekitarnya.

Rangkaian acara diawali dengan lantunan sholawat dari Tim Sholawat Majelis Taklim Masjid Jami Al-Falah. Kemudian dilanjutkan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Ustadzah Hj. Jannatul Ma’wa. Sebagai penceramah, Ustadzah Hj. Siti Fathiyah Khotib, Lc., MA. Guru tetap, Dra. Hj. Ubaidah HR., juga turut memberikan tausiah kepada jamaah maulid.

Tim Sholawat Muslimat Masjid Jami Al-Falah

Dalam ceramahnya, Ustadzah Hj. Siti Fathiyah Khotib mengangkat kisah tentang pernikahan Rasulullah dengan Saudah binti Zam’ah yang jarang disorot. Setelah Khadijah wafat, Nabi Muhammad SAW mengalami masa duka yang mendalam. Melihat kesendirian beliau, Khaulah binti Hakim, istri Utsman bin Mazh’un, berinisiatif menawarkan dua pilihan calon pendamping: seorang perawan (Aisyah binti Abu Bakar) dan seorang janda (Saudah binti Zam’ah). Menariknya, Nabi SAW justru memilih Saudah, seorang janda yang jauh lebih tua dan memiliki banyak anak.

Usia Saudah saat menikah, terdapat beberapa riwayat yang menyebutkan angka berbeda, namun yang paling umum adalah sekitar 55 tahun, sementara sumber lain menyebutkan hingga 70 tahun. Saudah sendiri adalah seorang wanita dari suku Quraisy yang memiliki nasab mulia. Sebelum menikah dengan Nabi, Saudah telah memeluk Islam sejak awal dan ikut berhijrah ke Habasyah (Ethiopia) bersama suaminya, Sakran bin Amr, yang juga merupakan sepupunya sendiri. Dalam perjalanan pulang ke Makkah, Sakran wafat.

Ustadzah Siti Fathiyah menegaskan, pernikahan Nabi dengan Saudah bukan didasari oleh nafsu syahwat, melainkan memiliki tujuan yang sangat mulia. Pertama, melindungi Saudah yang telah ditinggal suaminya sementara dia tidak punya pelindung. Kedua, menghormati perjuangan Saudah di masa awal penyebaran agama Islam. Ketiga, mengurus keluarga Nabi sebab sepeninggal Khadijah, rumah tangga Nabi dan putri-putrinya membutuhkan sosok yang bisa mengurus dan menghibur beliau. “Hal ini berbeda dengan zaman sekarang yang menikah lagi itu kebanyakan karena nafsu!” tegas Ustadzah Siti Fathiyah.

Saudah dikenal sebagai sosok yang sabar, dermawan, dan berbudi luhur. Meskipun secara fisik tidak secantik Khadijah dan usianya sudah tidak muda, ia memiliki akhlak yang sangat mulia. Bahkan Aisyah bahkan pernah berkata, “Aku tidak melihat seorang wanita yang ingin sekali aku tiru perilakunya melebihi Saudah binti Zam’ah” (HR. Muslim).

Ketika usianya semakin senja, Saudah dengan ikhlas menyerahkan jatah giliran malamnya bersama Nabi kepada Aisyah. Ia juga dikenal sangat rajin beribadah, berpuasa, dan gemar bersedekah. Suatu ketika, Umar bin Khattab memberinya sekarung dirham, dan seluruhnya langsung ia bagikan kepada orang yang membutuhkan.

Acara Maulid Nabi 1448 H di Masjid Jami Al-Falah berjalan lancar dan penuh hikmat. Jamaah tampak antusias mengikuti ceramah hingga acara selesai. Diharapkan, peringatan Maulid Nabi ini dapat menjadi momentum untuk meneladani akhlak Rasulullah SAW dan para ummahatul mukminin.

Foto-foto: Dok Muslimat