YTI Al-Falah — Yayasan Tarbiyah Islamiyah Al-Falah

Berita

BerandaBeritaTercerai Berai, Penyebab Indonesia Dijajah Begitu Lama Oleh Belanda
Tercerai Berai, Penyebab Indonesia Dijajah Begitu Lama Oleh Belanda
Berita

Tercerai Berai, Penyebab Indonesia Dijajah Begitu Lama Oleh Belanda

Irfan Hasuki17 Agustus 2026Dibaca 67 kali
Bagikan:

YTI-ALFALAH.ID Kenapa penjajahan Belanda di Indonesia begitu lama? Dimulai sejak VOC mendarat tahun 1596M di Banten. Kemudian secara perlahan menguasai perdagangan di bumi Nusantara lalu menjajahnya. Dilanjutkan kemudian oleh pemerintah Hindia Belanda yang menguras sumber daya alam dan sumber daya manusia dengan sangat besar. Dan selama 350 tahun, Indonesia dalam naungan kekuasaan bangsa asing. Ditambah pula dengan penjajahan Inggris dan Jepang meski tak begitu lama.

Jawabannya, karena bangsa Indonesia tidak bersatu, tercerai berai, perjuangannya terpisah-pisah. Hal ini memudahkan Belanda mengatasi berbagai perlawanan di berbagai belahan bumi Nusantara, dari Aceh hingga Papua.

Kesatuan dan persatuan inilah yang ditekankan pada pidato DR. H. Naupal, SS. M. Hum., saat menjadi pembina upacara di upacara perayaan Hari Kemerdekaan RI, 17 Agustus 2026 di halaman Madrasah Aliyah Al-Falah (17/08/2026), Sukabumi Selatan Jakarta Barat.

“Perjuangan kita melawan penjajah selalu berakhir dengan kegagalan!” tegas Naupal. Hal ini dikarenakan adanya politik adu domba oleh pemerintah Hindia Belanda, ditambah ada pembagian kelas sosial berdasarkan etnis, yang membuat bangsa Indonesia tidak bersatu.

Awal tahun 1900-an, banyak bermunculan kaum terdidik. Dari mereka ada yang baru pulang dari pendidikan di Eropa, Timur Tengah, yang mulai sadar akan pentingnya persatuan dalam perjuangan. Dari kaum inilah lahir organisasi masa, sosial keagamaan, pendidikan, muncul pula media-media masa yang terus mengobarkan semangat persatuan dan kesatuan. Ada Budi Utomo, Sarikat Islam, Nahdatul Ulama, Muhammadiyah, Perhimpunan Indonesia, dan banyak lagi. Titik pentingnya terjadi pada tahun 1928 dimana terjadi peristiwa Sumpah Pemuda yang berusaha menyatukan seluruh elemen pemuda di seluruh Indonesia.

“Terbentuknya kesadaran perjuangan ini, tak dapat dipungkiri berkat adanya kaum terdidik di kalangan para pemuda,” tegas Naupal. Artinya, tambah Naupal, pendidikan punya peran sentral dalam mengubah mind set dan cara pandang dalam melihat kehidupan. Pendidikan punya peran besar untuk menciptakan generasi anak bangsa yang kritis.

Di masa kemerdekaan yang sudah berlangsung 81 tahun ini, apa yang harus kita lakukan? Menurut Naupal, negara harus mewujudkan amanat dalam pembukaan UUD 45 yakni masyarakat Indonesia yang cerdas, yang adil dan sejahtera. “Ini adalah yang dicita-citakan para pendiri bangsa dan para pahlawan,” jelas Naupal. Jangan sampai cita-cita Indonesia emas di tahun 2045 malah menjadi Indonesia cemas. Tapi ia yakin bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang tangguh dan besar, tidak cengeng dan pasrah yang akan mampu menghadapi dan mengatasi penghalang.

“Para siswa-siswi Madrasah Al-Falah, mari kita isi kemerdekaan ini dengan iman, ilmu, dan amal nyata!” tandas Naupal menutup pidatonya.