Mempelajari Ilmu dan Makrifat, Seperti Orang yang Butuh Makan
Setiap Selasa pagi, Pukul 07.45 – 08 45 WIB, diadakan taklim di Auditorium Pondok Pesantren Al-Falah, Sukabumi Selatan, Kebon Jeruk, Jakarta Barat. KH. Bahroin bin KH. Bunyamin Muhammad, membimbing taklim dengan kitab Syarah Al-Hikam. Kitab Syarah Al-Hikam ini adalah syarah atau penjelasan dari kitab Al-Hikam karya Imam Ibnu Athaillah As-Sakandari. Karena bahasanya terlalu tinggi dan sulit dipahami awam maka dibuat syarahnya. Salah satu ulama yang menulis syarahnya adalah Ahmad bin Muhammad bin Ajibah, kitabnya dikenal Syarah (Al-Hikam) Ibnu Ajibah.
Kitab ini masuk dalam jenis tasawuf, untuk membersihkan hati. Bagi kita yang sedang belajar “uswatun hasanah” sangat perlu belajar kitab ini karena mengajarkan kita bagaimana adab kepada Allah Sang Pencipta, ke diri sendiri, maupun ke makhluk ciptaan Allah. Sebagai makhluk ciptaan, sebagai makhluk sosial, perlu menata hati sehingga hablum minallah dan hamblum minannas-nya terjaga dengan baik.

Pada Selasa lalu, (25/08/2026), pembahasan pada taklim membahas tentang perlunya manusia belajar ilmu dan belajar makrifat untuk memperkuat dan memperkaya hati. Karena begitu pentingnya, diibaratkan seperti manusia yang butuh makan supaya memiliki tenaga untuk beraktivitas. Jika tidak makan, lemas tak punya tenaga. Jika tak berilmu-bermakrifat, tak tahu apa yang harus dilakukan. Bagaimana caranya beradab kepada Allah dan kepada makhluk-Nya.
Setiap orang memiliki kebutuhan makanan yang berbeda. Kebutuhan anak kecil, tentu berbeda dengan orang dewasa. Bayi misalnya, porsinya sedikit, harus lebih lunak, bumbunya disesuaikan. Berbeda dengan orang dewasa, kebutuhan makannya lebih banyak, menu apa saja bisa dimakan, berkuah pedas, asam, atau asin.
Demikian dengan ilmu dan makrifat, daya tampung dan serap terhadap penyampaian ilmu dan makrifat pun berbeda di setiap orang. Ada yang mampu menangkap dan menyerap ilmu dan makrifat hingga 80-90%, ada yang 50%, ada yang 20%, bahkan ada yang hanya 5%. Tergantung dari batasan kesiapan atau kapasitas pada akal setiap manusia.
Perbedaan daya tangkap, serap, dan pemahaman ini yang kemudian membuat banyak pemikiran atau tafsiran yang berbeda. Di samping juga situasi dan kebutuhan yang ada di suatu lokasi. Itu kemudian kenapa muncul banyak mazhab yang berbeda dalam menafsirkan sesuatu.

Demikian pula dengan jenis makanannya. Ada yang suka daging ada yang tidak, ada yang suka tahu-tempe ada yang tidak, ada yang suka sate ada yang tidak. Tidak bisa kita memaksakan orang yang tidak suka makan daging untuk makan daging. Ini sudah menjadi tabiatnya. Dan kita tidak bisa memaksakan mazhab yang kita anut kepada mazhab yang orang lain anut.
Sulit menjelaskan dengan rinci dan benar apa yang disampaikan KH. Bahroin bin KH. Bunyamin Muhammad di halaman ini. Supaya kita tidak keliru dalam memahami dan menerapkan adab kepada Allah, Makhluk, juga alam sekitar, bisa mengikuti taklimnya di setiap Selasa pukul 07.45-08.45 di auditorium Pondok Pesantren Al-Falah, Sukabumi Selatan, Kebon Jeruk, Jakarta Barat.

