YTI Al-Falah — Yayasan Tarbiyah Islamiyah Al-Falah

Berita

BerandaBeritaMelatih Ketahanan Mental Lewat Paskibra
Melatih Ketahanan Mental Lewat Paskibra
Berita

Melatih Ketahanan Mental Lewat Paskibra

Irfan Hasuki16 Agustus 2026Dibaca 30 kali
Bagikan:

YTI-ALFALAH.ID Seorang siswi berusia 16 tahun asal Desa Bonra, Kecamatan Mapilli, Kabupaten Polewali Mandar, ramai diperbincangkan. Ia berhasil mengukir sejarah, menjadi orang pertama yang bersekolah di sekolah rakyat, resmi terpilih menjadi calon Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) mewakili provinsi Sulawesi Barat. Namanya Ismi Ulfaida, ia mengalahkan ribuan calon Paskibraka dari seluruh Indonesia.

Kapan sih awal mula adanya Paskibraka? Hal ini diawali saat persiapan upacara hari kemerdekaan RI tahun 1967. Waktu itu Presiden Soeharto ingin upacara 17 Agustus dilaksanakan lebih khidmat. Akhirnya dibentuklah semacam pasukan khusus pengibar bendera yang anggotanya pelajar SMA.

Lalu pada tahun 1973, nama PASKIBRAKA resmi dipopulerkan oleh Husein Mutahar, mantan ajudan Presiden Soekarno dan pencipta lagu "Hari Merdeka". H. Mutahar juga merancang formasi 17-8-45 dan pelatihan Paskibraka (di Istana Negara) dan Paskibra (di luar istana Negara). 17 orang pembawa bendera, 8 pengerek bendera, dan 45 pasukan pengawal. Inilah kenapa, sering kita lihat anggota pasukan Paskibra begitu banyak, mereka mengikuti rancangan formasi H. Mutahar.

Kemudian pada tahun 1980-an Paskibra pun mulai masuk ke sekolah-sekolah memeriahkan pelaksanan upacara Senin maupun upacara 17 Agustus. Mengingat butuh kedisiplinan, kekompakan, ketahanan mental, juga proses latihan yang cukup panjang maka banyak sekolah yang memasukkannya di kegiatan ekstrakurikuler.

Bagaimana dengan di Yayasan Tarbiyah Islamiyah Al-Falah? Kapan Paskibra mulai terbentuk dan berkiprah di upacara 17 Agustus? Paskibra Al-Falah terbentuk tahun 1996, dirintis oleh Bapak Hasbiallah, KH. Balya Isa, dan Khozin Mas’ud. Angkatan pertama yang juga kemudian membentuk Kelompok Pelatih Paskibra Madrasah Al-Falah (KPPMA) adalah A. Makky, Ahmad Bayadho, Ahmad Bisri, Iwan Anshori, M. Fadhil, A. Fauzi, Hafani, Ahmad Faqih, dan Akmal Marhali.

Sejak itu Paskibra Al-Falah selalu meramaikan upacara 17 Agustus. Anggotanya digabung dari siswa/i Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah Al-Falah. Upacara gabungan dari seluruh unit di lingkungan Yayasan Tarbiyah Islamiyah Al-Falah ini dilaksanakan di halaman Madrasah Aliyah Al-Falah, Sukabumi Selatan, Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Tahun ini adalah tahun ke-23 keterlibatan Paskibra dalam upacara 17 Agustus.

“Dari tahun ke tahun kami terus berusaha memberikan penampilan terbaik dan menjaga agar pelaksanaan upacara tetap berjalan dengan tertib, khidmat, dan membanggakan,” jelas Ahmad Rizqi Aziz, Ketua KPPMA saat ini.

Menurut Eki, panggilan akrabnya, tak mudah melatih Paskibra, sebab kemampuan dan karakter setiap anak berbeda. Ada yang cepat menangkap gerakan, ada juga yang membutuhkan waktu lebih lama. Selain itu, menjaga konsistensi latihan dan kedisiplinan juga menjadi tantangan.

“Nah pelatih harus sabar dan memberikan pendekatan yang berbeda kepada setiap anak. Gerakan juga diulang berkali-kali sampai mereka benar-benar memahami,” jelas Eki. Yang tidak kalah penting, lanjutnya, adalah membangun komunikasi dan kekompakan, sehingga anak-anak merasa latihan ini bukan beban, tetapi proses untuk berkembang bersama.

Dari latihan demi latihan, perkembangannya akan terlihat baik dari segi kedisiplinan, kekompakan, ketepatan gerakan, mental, maupun rasa tanggung jawab anggota Paskibra. “Mereka pun semakin percaya diri dan lebih mampu mengikuti instruksi serta bekerja sebagai satu tim,” jelas Eki. Ia merasa sangat senang ketika anak yang awalnya masih banyak melakukan kesalahan, kemudian perlahan-lahan bisa menjadi lebih disiplin, kompak, dan percaya diri. “Apalagi ketika akhirnya mereka bisa tampil dengan baik di upacara 17 Agustus. Ada rasa bangga sebagai pelatih.”

Menurut Eki, banyak manfaat yang bisa didapat anak lewat Paskibra. Mereka bukan hanya belajar baris-berbaris atau upacara tetapi juga belajar disiplin, tanggung jawab, kerja sama, kepemimpinan, ketahanan mental, percaya diri, dan menghargai waktu. Mereka juga belajar bahwa untuk mendapatkan hasil yang baik, dibutuhkan proses, latihan, kesabaran, dan konsistensi. Nilai-nilai tersebut nantinya sangat berguna, bukan hanya di sekolah tetapi juga dalam kehidupan mereka.

Eki berharap, ke depannya Paskibra Al-Falah tidak hanya dipersiapkan saat tim harus bertugas di setiap upacara 17 Agustus saja tetapi bisa berkembang menjadi ekstrakurikuler yang lebih terarah sehingga prestasinya bisa ditingkatkan. Keinginan ini demi membangun kaderisasi yang baik, sehingga setiap angkatan bisa meneruskan apa yang sudah dibangun oleh angkatan sebelumnya. “Kalau memungkinkan, kami juga ingin membawa anak-anak untuk mengikuti berbagai kegiatan atau perlombaan Paskibra agar pengalaman dan prestasinya semakin luas.”

Sejauh ini, kata Eki, respon dari pihak yayasan, guru, wali murid sangat positif. Mereka memberikan dukungan dan apresiasi sangat baik. Dan dari siswa terlihat sangat antusias ketika melihat teman-temannya tampil dalam upacara. Hal ini bisa menjadi motivasi buat anak lain ikut bergabung di Paskibra dan juga memotivasi anak-anak Paskibra untuk terus berlatih dan memberikan penampilan yang lebih baik lagi.

Untuk menjadi anggota Paskibra, kata Eki, tak ada persyaratan khusus. Yang penting anak punya tekad untuk disiplin, menjaga kekompakan, bersikap santun, saling menghargai, bersedia mengikuti latihan yang cukup lama, menggunakan perlengkapan atau seragam sesuai ketentuan, mengikuti instruksi pelatih, serta tidak mengganggu jalannya latihan. “Kalau ada kesalahan, jangan saling menyalahkan, tetapi saling mengingatkan dan memperbaiki bersama. Karena tujuan akhirnya bukan hanya menghasilkan gerakan yang bagus, tetapi juga membentuk karakter anak yang disiplin dan bertanggung jawab,” tandas Eki.
Mau Jadi Anggota Paskibra Tahun Depan?