
Maulid SDI Al-Falah I: MENELADANI AKHLAK RASULULLAH YANG LEMAH LEMBUT
YTI-ALFALAH.ID Ada kisah, menceritakan tentang kelembutan dan pemaafnya Rasulullah SAW. Suatu ketika, Rasulullah tengah bersedih karena Khadijah RA, istri yang sangat dicintainya, wafat. Juga pamannya yang selalu melindunginya, Abu Thalib, wafat. Dalam kesedihan dan ancaman kaum kuffar Quraisy, Rasulullah bersama Zaid bin Haritsah pergi ke Thaif, bermaksud mencari perlindungan sambil menyampaikan dakwah. Rasulullah berharap penduduk Thaif mau menerima mereka.
Namun yang terjadi, Rasulullah ditolak juga dihinakan. Para pembesar Thaif menghasut penduduk di sana dan meminta mereka melempari Rasulullah dan Zaid dengan batu sambil berkata kasar lalu mengusir Rasulullah dengan tubuh bersimbah darah. Sampai di sebuah kebun milik Utbah dan Syaibah mereka duduk beristirahat.
Allah SWT kemudian mengutus Malaikat Jibril dan Malaikat Penjaga Gunung. Malaikat Penjaga Gunung berkata, "Wahai Muhammad, Allah telah mendengar perkataan kaummu kepadamu. Aku adalah Malaikat Penjaga Gunung, Allah mengutusku kepadamu untuk melaksanakan apa yang engkau perintahkan. Jika engkau mau, aku akan menimpakan dua gunung besar yang mengapit kota Thaif ini kepada mereka."

Dalam keadaan terluka, berdarah, dihina, Rasulullah bisa berkata “baiklah, timpakan gunung itu!” Tapi beliau menolaknya malah mendoakannya. “Aku berharap semoga Allah mengeluarkan dari tulang sulbi mereka keturunan yang menyembah Allah semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun."
Sifat pemaafnya ini bukan karena beliau lemah, tapi karena hati beliau penuh dengan kasih sayang. Jikalau hari ini mereka tidak beriman, mungkin kelak anak dan cucu mereka beriman. Rasulullah melihat manusia bukan sebagai musuh yang harus dihancurkan, tapi sebagai hati yang mungkin suatu hari akan mendapat hidayah. Inilah kecerdasan Rasulullah, ia melihat ke depan. Dan terbukti, Thaif menjadi salah satu pusat ilmu Islam ketika Abdullah bin Abbas RA (perawi hadits dan sepupu Rasulullah) pindah dari Mekkah ke Thaif untuk mengajar ilmu hadits, tafsir, fiqih.

Kemulaiaan akhlak den kecerdasan Rasulullah inilah yang dijadikan tema peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di SDI Al-Falah I, Kebon Jeruk Jakarta Barat, “Mulia akhlaknya cerdas akalnya.” Drs. Waridi Anwar, Kepala Sekolah SDI Al-Falah I dalam sambutannya mengatakan, “Nabi mengajarkan kepada kita untuk mengucapkan kata-kata yang baik, tidak ada kata buruk. Man kaana yu'minu billahi wal yaumil akhiri falyakul khoiron auliasmut. Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka ia akan berkata baik atau diam,” jelas Waridi. Rasulullah sudah menyontohkannya, salah satunya seperti peristiwa di Thaif, ketika dicemooh, dihina, diusir, beliau bukan membalikkan dengan kata-kata buruk malah mendoakan.
Akhlak mulia yang dicontohkan Rasulullah yang lain dijelaskan pula oleh Ketua Umum Yayasan Tarbiyah Islamiyah Al-Falah (YTIA) H. Ahmad Farid, RS. Dalam sembutannya beliau mengatakan bahwa Rasulullah sangat santun. “Rasulullah kalau ada orang yang sedang berbicara maka dia mendengarkan,” jelasnya. Bahkan dengan musuh pun, ketika musuhnya sedang berbicara, Rasulullah menyimak. Nah anak-anak, lanjut Ahmad Farid, kalian juga harus mendengarkan orang lain, tidak gaduh, ini adalah akhlak yang sangat baik dari Rasulullah. “Untuk meneladani Rasulullah maka kita harus mendengarkan jika ada yang bicara di atas panggung,” katanya.

Tujuan maulid ini pun, tambah Ahmad Farid, juga untuk mempertebal cinta kita kepada beliau dengan melaksanakan sunnah-sunnah dengan sebaik-baiknya. “Mungkin kita belum bisa meneladani seluruhnya, tetapi sedikit-sedikit kita harus terus mengupayakan untuk menjadi lebih baik,” tegas Ahmad Farid yang meminta anak-anak untuk menanamkan ke dalam hati masing-masing, memberikan makna pada peringatan maulid ini sehingga membekas di hati.
Lurah Sukabumi Selatan, Anjas Umaryadi SKM, menyempatkan hadir di acara maulid ini. Dia begitu senang diundang. Sebab, katanya, kelurahan bermitra kepada sekolah-sekolah termasuk SDI Al-Falah I. “Alhamdulillah sudah banyak sekolah yang dikunjungi karena kami memang ingin berkolaborasi karena kami kan pelayan masyarakat,” jelas Anjas Umaryadi. “Kita sudah berkolaborasi pengolahan sampah, ke depan kita teruskan. Mudah-mudahan nanti sampah bisa kita kelola sendiri dan bisa dipraktekkan di sekolah dan rumah.
Habib Geys bin Abdurrahman Assegaf, yang memberikan tausiyah di penghujung acara, mengutip sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Tahbrani. "Al-mu'minu ya'laf wa yu'laf, wa laa khaira fiiman laa ya'laf wa laa yu'laf." Artinya, "Orang mukmin itu mudah mencintai dan mudah dicintai. Dan tidak ada kebaikan pada orang yang tidak mencintai dan tidak dicintai."

Maksud dari hadits ini, orang baik itu hatinya tidak kotor. Jika ia melihat sedikit kebaikan pada orang lain ia sudah menghargai, tidak menyimpan dendam, iri, dengki, hatinya lapang. Orang baik pun selalu menenangkan, kebaikannya tidak dibuat-buat, jujur, kalau bicara enak, kalau diam tidak menyakiti sehingga orang lain betah berada di dekatnya.
Di sela-sela tausiahnya, dia memanggil salah satu siswi yang bernama Zainab ke atas panggung. Zainab adalah siswi yang berasal dari Mali, Afrika. Dia berkulit hitam, bermata besar, dan berbadan cukup tinggi. Di sela-sela dialog bersama Habib Geys, Zainab bercerita kalau ia suka di bully, fisiknya suka dijadikan bahan olokan. Lalu Habib Geys meminta Zainab menunjuk siapa yang suka membully-nya. Ia menunjuk temannya yang suka membully yang kemudian diminta Habib Geys naik ke atas paggung. Di atas panggung, Habib Geys menjelaskan bahwa mengolok-olok, membully, mengejek, itu tidak boleh. “Rasulullah tidak mengajarkan dan itu tidak boleh dilakukan!” kata Habib Geys. Akhirnya mereka pun berbaikan dan berjanji tidak akan melakukannya lagi.

