YTI Al-Falah — Yayasan Tarbiyah Islamiyah Al-Falah

Berita

BerandaBeritaMaulid SDI Al-Falah 4: Semai Cinta Kepada Rasulullah Sejak Dini
Maulid SDI Al-Falah 4:  Semai Cinta Kepada Rasulullah Sejak Dini
Berita

Maulid SDI Al-Falah 4: Semai Cinta Kepada Rasulullah Sejak Dini

Irfan Hasuki31 Agustus 2026Dibaca 90 kali
Bagikan:

YTI-ALFALAH.ID Kalau kita menanam pohon, maka bibitnya harus disemai, disiram, diberi pupuk, dan dirawat. Pohon pun akan tumbuh subur. Sebaliknya, jika bibit sudah disemai namun tak disiram, diberi pupuk, dan tak dirawat, pohon akan kerdil bahkan mati.

Demikian pula dengan cinta kepada Rosulullah, perlu disemai lalu dirawat dengan baik supaya cinta kita semakin kuat. Apalagi di zaman sekarang, begitu banyak godaan yang dapat membuat kita jauh dari cinta kepada Rosulullah.

Taufikurrahman, S.S., Kepala Sekolah SDI Al-Falah 4

Rasulullah pernah bersabda bahwa kita harus mencintainya. Imam Bukhori meriwayatkan, "Dari Anas bin Malik ia berkata: Nabi ﷺ bersabda: Tidak beriman salah seorang diantara kalian sampai aku lebih dicintainya daripada orang tuanya, anaknya, dan manusia seluruhnya."

Jadi tak sekadar menyemai tetapi mencintainya dengan kuat bahkan melebihi cinta kita kepada orangtua, anak, teman, dan lainnya. Kalau kita sudah cinta maka akan mengikuti apa yang dikatakan Rosulullah. Dan kelak di Yaumil Akhir, Insya Allah kita akan mendapatkan syafaatnya.

KH. Bahroin Nasuki, S.Pd.I., Ketua Bidang Pendidikan dan Pengajaran YTIA

Terkait dengan itu, Taufikurrahman, S.S., Kepala Sekolah SDI Al-Falah 4, menekankan betapa pentingnya kita memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW dalam rangka menyemai cinta kita kepada Rasulullah. “Dengan memperingati Maulid ini mudah-mudahan kita juga mendapatkan syafaatnya,” katanya dalam sambutan di peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW., di SDI Al-Falah 4, Senin 31 Agustus 2026.

Sejak dini, kata Taufik, anak-anak perlu diajak menyemai cintanya kepada Rasulullah. Salah satu caranya adalah dengan memperingati Maulid dimana di dalamnya banyak hikmah yang bisa dipetik dari kisah-kisah Rasulullah. “Cinta Rosul tidak?” tanya Taufik kepada anak-anak yang dijawab teriakan, “Cintaaa!” “Kalau cinta ayo kita ikuti peringatan Maulid dengan tertib.”

Para Guru SDI Al-Falah 4 dan Tamu Undangan

Ia kemudian mengutip tema Maulid yang tertulis di backdrop, “Menyemai cinta kepada Nabi, membangun generasi beradab dan unggul. Membangun insan kamil dengan memupuk akhlak Rasulullah sejak dini. Sebagai bentuk rasa cinta kepada Nabi dan meneladani akhlak Rasulullah.”

Pada sambutan berikutnya, KH. Bahroin Nasuki, S.Pd.I., Ketua Bidang Pendidikan dan Pengajaran Yayasan Tarbiyah Islamiyah Al-Falah (YTIA) menangkap adanya penurunan kepedulian anak-anak sekarang kepada Rasulullah dan sejarah Islam. “Saya melihat nilai anak-anak pada ujian Yayasan, mata pelajaran Tarikh Islam sangat rendah,” kata Bahroin. Penting sekali, tambah Bahroin, kita kembali mengenalkan Rosulullah dan juga sejarah Islam dengan cara yang lebih efektif. “Mudah-mudahan acara Maulid ini menjadi pelecut sehingga nilai di mata pelajaran Tarikh Islam meningkat.”

Tim Hadroh SDI Al-Falah 4

Usai sambutan Bahroin, Kak Eman pendongeng naik ke atas pangung. Lalu ia bertanya, “Siapa yang ingin mendapatkan syafaat dari Rosulullah?” Kalau mau dapat syafaat, lanjut Kak Eman, sering-sering bersholawat, laksanakan sunnah-sunnahnya, dan cintai guru dan alim ulama. Lalu Kak Eman menciptakan keriuhan bersama Acun, boneka monyet yang lucu dan tengil, sehingga anak-anak kembali semangat mengikuti acara Maulid.

Kata Kak Eman, semakin sering kita bersholawat maka semakin kuat cinta kita kepada Rosulullah. Semakin cinta kita kepada Rosulullah maka semakin mudah kita menjalankan sunnah-sunnahnya. “Misalnya, baca do’a bangun tidur, baca do’a sebelum makan, baca do’a setelah makan, pokoknya baca do’a setiap kita akan melakukan sesuatu,” jelas Kak Eman. Setelah itu, Insya Allah nanti kita akan mendapatkan syafaat dari Rasulullah.

Siswi SDI Al-Falah 4

Kemudian Kak Eman bercerita tentang Ican, anak yang sudah yatim-piatu sejak kecil. Ican tumbuh kuat berasama kakeknya. “Seperti Rasulullah yang sudah ditinggal ayahnya saat di dalam kandungan, ditinggal ibunya ketika Rasullullah berusia 6 tahun, dan ditinggal kakeknya saat beliau berusia 8 tahun,” terang Kak Eman. Dan Ican harus kuat menjalaninya.

Acara kemudian ditutup dengan Do’a. Dilanjutkan kemudian dengan pengumuman dan pembagian hadiah pemenang lomba pekan Maulid yang diadakan seminggu sebelumnya.