
Maulid di MTs Al-Falah: Rasulullah itu Cerdas, Maka Umatnya Juga Harus Cerdas
YTI-ALFALAH.ID Saat itu malam 17 Ramadhan, Rasulullah sedang tahannuts atau menyendiri dan beribadah di gua Hira. Lalu Jibril datang dan memeluk Rasulullah sambil berkata Iqra! Rasulullah bilang bahwa ia tidak bisa membaca. Lalu Rasulullah melepas pelukan hingga 2 kali. Namun dipelukan ketiga, dan Jibril meminta Rasulullah membaca Iqra, Rasulullah pun mampu melakukannya. Dan saat itu, turunlah wahyu pertama dari Allah SWT yakni ayat 1-5 surat Al-Alaq.
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ - خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ - اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ - الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ - عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ
Setelah menerima wahyu, Rasulullah bergegas pulang dengan badan gemetar dan penuh keringat. Sesampainya di rumah ia meminta Siti Khadijah memberinya selimut dan menyelimutinya. Beberapa saat kemudian Siti Khadijah membawa Rasulullah ke rumah Waraqah bin Naufal seorang ahli kitab yang tinggal di Mekkah. Waraqah bilang, yang mendatangi Rasulullah adalah Namus atau malaikat Jibril sama seperti yang mendatangi Nabi Musa. “Sungguh, engkau adalah Nabi umat ini!” kata Waraqah.

Wahyu pertama adalah “Iqra” bacalah. Berarti Allah sangat menekankan bahwa kita umat Islam diperintahkan untuk banyak dan selalu membaca, dalam arti menuntut ilmu. Hal ini juha mengisyaratkan bahwa Islam sangat memuliakan ilmu dan betapa pentingnya ilmu. Rasulullah pun saat awal berdakwah, ia menyebarkan ilmu, bukan menyebarkan kebencian dengan menggunakan pedang.
Perintah membaca ini pun bukan sekadar membaca, melainkan bacalah alam sekitar, ada apa di sana. Bacalah sejarah, apa saja yang terjadi sebelumnya untuk menjadi pelajaran. Bacalah diri kita sendiri, apa saja yang mampu kita lakukan. Membacanya pun harus dengan menyebut nama Tuhanmu yakni Allah SWT supaya kita tidak sombong setelah diberi ilmu. Lalu apa yang kita baca pun menjadi manfaat buat kita dan orang lain. Karena sesungguhnya yang mengajarkan dan menuntun kita itu sebenarnya Allah, dari tak tahu apa-apa hingga mengetahuinya.
Sebelum Rasulullah diutus di tengah bangsa Arab, kehidupan di sana sangat jahiliyah. Penuh kesombongan, keserakahan, ketamakan, buta huruf merajalela, hidup semaunya. Dan sejak Rasulullah hadir, perlahan semua berubah. Ilmu-ilmu yang dibawa Rasulullah menjadi penerang bagi kehidupan masyarakat di sana. Islam mengenalkan budaya membaca, menulis, melakukan riset, kebiasaan mencatat, kebiasaan membuat syair, melahirkan penulis hebat, memunculkan ahli pengobatan, ahli arsitek, ahli kedokteran, dan seterusnya.

Madrasah Tsanawiyah Al-Falah, ingin menumbuhkan kembali semangat membaca kepada siswa-siswinya seperti apa yang sudah diajarkan dan dibudayakan oleh Rasulullah beratus tahun lalu. Maka Maulid Nabi Muhammad SAW mengangkat tema “Dengan memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW kita tumbuhkan semangat literasi untuk masa depan yang berprestasi.” Maulid yang diadakan di Masjid An Nur, Grogol Utara, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan ini, dilaksanakan pada Senin 14 September 2026.
H. Ahmad Farid, RS., Ketua Yayasan Tarbiyah Islamiyah Al-Falah (YTIA) menanggapi dengan sangat positif tema yang diangkat pada acara Maulid kali ini. “Surat pertama yang turun kepada Nabi Muhammad kan surat Al-Alaq, Iqra, bacalah,” jelas Ahmad Farid. Jadi sesuai sekali kalau mengambil tema seperti ini. “Selama ini kita kan selalu mengambil tema di acara Maulid, meneladani Rosulullah. Kali ini terkait dengan literasi dan ini erat kaitannya dengan ummat Islam,” tegas Ahmad Farid.
Membaca, lanjut Ahmad Farid, adalah bagian penting dari literasi. Literasi bukan hanya sekadar membaca tetapi memahami, menganalisa, yang dapat meningkatkan amal ibadah kita. “Tanamkan budaya membaca ini pada diri masing dan mudah-mudahan dengan adanya tema ini kalian akan tedorong untuk terus membaca. Tapi jangan membaca yang tidak-tidak, bacalah yang baik-baik untuk meningkatkan pengetahuan dan amal ibadah kalian,” terang Ahmad Farid.

Ichwan Rasyid, S.Pd. MM., Kepala Madrasah MTs. Al-Falah mengatakan bahwa tema ini dibuat oleh siswa-siswi panitia Maulid, bukan oleh guru. “Kata mereka karena karena tanggal 8 September Hari Literasi Nasional dan tanggal 14 September Hari Kunjungan ke Perpustakaan,” jelas Pak Iwan, panggilan akrabnya. Jadi cocok sekali, antara pesan yang dibawa Rasulullah dengan kampanye yang dibuat oleh lembaga maupun organisasi pada zaman ini.
Selain pesan untuk banyak membaca, Rasulullah pun, Kata Pak Iwan, diutus untuk menjadi rahmat bagi alam semesta. “Seperti yang tertuang di surat Al Anmbiya ayat 107. Dikatakan, tidaklah Aku utus engkau Muhammad, kecuali sebagai rahmat bagi alam semesta," terang Pak Iwan. Rahmat itu apa sih? Tanya Pak Iwan. Kalau kita ingin kebahagiaan, memperbaiki hidup harus dengan rahmat yakni dengan kelemahlembutan, kasih sayang, empati sehingga dapat memperbaiki kehidupan kita dan juga orang lain.
Pak Iwan bercerita, di zaman Rasulullah ada seorang ibu, ia ahli ibadah, sedekahnya rajin. Lalu seseorang bertanya kepada Rasulullah. "Ya rosul ada seorang ibu ahli ibadah, malamnya selalu diisi dengan ibadah, siangnya dia rajin sedekah. Bagaimana ya Rasulullah?" Rasulullah tahu siapa yang dimaksud. Ternyata ibu itu selalu berbicara menyakiti orang lain. Kata Rasulullah, tidak ada kebaikan di dalam ibadahnya karena ia masih suka menyakiti org lain. Dia adalah penghuni neraka. “Artinya, mengikuti Rasulullah tidak hanya mengikuti ibadahnya saja tetapi juga akhlaknya,” tegas Pak Iwan.

Di penghujung acara, KH. Ahmad Wasi, S.Ag., memberikan Tausiah. Nabi Muhammad, kata beliau, adalah orang yang sangat cerdas. Cerdas atau Fathonah adalah satu dari empat sifat yang melekat ke diri beliau. Sifat lainnya adalah Shidiq, Amanah, dan Tabligh. “Nah untuk mengikuti Nabi maka ummatnya juga harus cerdas,” kata Ahmad Wasi. Kalau tidak cerdas berarti tidak mengikuti Nabi. Bagaimana supaya cerdas, ya banyak membaca dan giat belajar.
Di zaman Rasulullah ada wanita yang sangat cerdas, namanya As Syifa Binti Abdullah. “Karena sangat cerdasnya Nabi mengangkatnya sebagai guru privat buat istri Rasulullah, Hafshah binti Umar,” terang Ahmad Wasi. Hafshah adalah anak dari Umar bin Khattab, ia senang sekali menulis dan membaca. Zaman itu, jarang sekali wanita yang seperti Hafshah. Lalu As Syifa mengajari Hafshah membaca dan menulis. Selain itu, As Syifa juga mengajari ilmu Rukyah dan pengobatan tradisional kepada Hafshah yang membuat Hafshah menjadi salah satu wanita tercerdas di zaman Rasulullah.
Kemudan, lanjut Ahmad Wasi, ada laki-laki yang juga sangat cerdas. Namanya Ali bin Abi Thalib. “Karena terlalu cerdasnya, jika ia ditanya satu pertanyaan maka dia bisa menjawab dengan sepuluh jawaban yang berbeda,” terang Ahmad Wasi. Satu ketika, Nabi pernah membuat semacam lomba, siapa yang paling cepat bisa mengkhatamkan Al-Qur’an maka ia akan aku nikahkan dengan Fatimah, anak beliau. Sementara yang lain mengambil posisi dan khusuk membaca Al-Qur’an hingga hatam, Ali bin Abi Thalib tampak santai. “Meski sangat santai, Ali menjadi pemenangnya dan ia dinikahkan dengan Fatimah,” jelas Ahmad Wasi. Ternyata Ali membaca surat Al Ikhlas 3 kali karena dia pernah mendengar Rasulullah bersabda, "Barang siapa yang membaca surat Al Ikhlas 3 kali maka pahalanya sama dengan menghatamkan Al-Qur’an.”

Pada intinya, orang yang cerdas itu bisa melakukan lebih banyak hal. Hal-hal yang tidak terpikirkan oleh orang lain pun bisa ia lakukan. Para penemu, peneliti, menemukan temuannya juga karena cerdas dan kecerdasan ini tidak dimiliki semua orang. Contoh, Abu al-Qasim Khalaf bin al-Abbas al-Zahrawi, dokter ahli bedah yang sangat terkenal di dunia Islam, hidup di Cordoba, Andalusia tahun 936 - 1013 M. Ia adalah penemu jarum suntik yang pada saat itu belum ada orang yang menemukannya.
Di dalam kitabnya yang terkenal "Al-Tasrif liman 'ajaza 'an al-ta'lif" atau "Buku Pengetahuan Medis untuk Orang yang Tidak Mampu Menulis." Di salah satu bagian bukunya beliau mendeskripsikan dan menggambar alat yang fungsinya mirip jarum suntik. Fungsinya, untuk menyuntikkan obat ke tenggorokan, membersihkan luka, dan mengeluarkan nanah/cairan dari dalam tubuh. Bentuknya dari perak/kaca + tabung. Kecerdasan ini didapat karena dia tekun membaca, apa yang terlihat dan apa yang tak terlihat.

Maka sebagai ummat Nabi Muhammad SAW, kita harus menjadi anak yang cerdas. Caranya, banyak membaca, banyak belajar, banyak memahami, sehingga kecerdasan akan terbentuk. Inilah pesan yang disampaikan pada Maulid yang diadakan di MTs. Al-Falah Grogol Utara, Kebayoran Lama Jakarta Selatan.

