YTI Al-Falah — Yayasan Tarbiyah Islamiyah Al-Falah

Berita

BerandaBeritaAl-Falah Adalah Bahtera Kita, Kayuh Bersama untuk Mencapai Cita-cita Bersama
Al-Falah Adalah Bahtera Kita, Kayuh Bersama untuk Mencapai Cita-cita Bersama
Berita

Al-Falah Adalah Bahtera Kita, Kayuh Bersama untuk Mencapai Cita-cita Bersama

Irfan Hasuki20 Agustus 2026Dibaca 76 kali
Bagikan:

YTI-ALFALAH.ID Sejak berdiri tahun 1968, Al-Falah yang berada dalam naungan Yayasan Tarbiyah Islamiyah Al-Falah (YTIA), sudah menghasilkan ratusan bahkan ribuan kader yang tersebar di berbagai lini masyarakat. Para pendirinya, kiyai dan para guru, bercita-cita menjadikan Al-Falah sebagai suluh penerang, khususnya wilayah di Sukabumi Selatan, Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Cita-cita mereka berhasil diwujudkan oleh para kader yang mereka bimbing dan ajarkan.

Saat ini, Al-Falah sudah berusia 58 tahun. Bukan waktu yang singkat dalam usaha menjaga nilai-nilai aswaja, keikhlasan, keistiqomahan, dan pastinya juga tetap bermanfaat kepada masyarakat. Banyak lika-liku yang dihadapi, namun berkat kesabaran, ketekunan, keikhlasan, kesungguhan, semuanya bisa dilalui dengan baik hingga saat ini.

Demi mengenang jasa para pendahulu, bersyukur, berkomitmen, juga meneruskan sinergi yang lebih baik, pengurus YTIA, para guru, juga tenaga pendidik, melaksanakan Harlah YTIA yang ke-58, Senin (17/08/2026), di Auditorium Madrasah Aliyah Al-Falah Sukabumi Selatan Jakarta Barat. Dalam harlah kali ini, selain berzikir dan berdoa bersama, diisi pula dengan pembinaan yang dibawakan oleh Prof. Muhammad Zuhdi, M.Ed., Ph.D., Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah yang juga Alumni Madrasah Al-Falah.

“Sebagai generasi penerus kita harus melestarikan dan mewariskan nilai-nilai Al-Falah secara kolektif di Sekolah, Madrasah, Pesantren, Majelis Taklim, dan masyarakat,” ucap Prof. Zuhdi di awal materinya. Apa yang dilestarikan dan diwariskan? Ia menyebut, nilai Islam Aswaja, Keikhlasan, Keistiqomahan, dan Kebermanfaatan. “Sebab, para pendiri Al-Falah memiliki ini semua dan kita harus terus melestarikannya,” tegas Prof. Zuhdi.

“Yayasan Tarbiyah Islamiyah Al-Falah adalah perahu kita,” tegas Prof. Zuhdi lagi. Di antara kita, mungkin ada yang sebagian kecil rezekinya dari sini, separuhnya, atau sebagian besarnya. Nah, kita perlu menjaga perahu ini agar tetap bisa berlayar dengan baik. “Ladang pengabdian kita ada disini,” kata Prof. Zuhdi. Mengabdilah Dengan berbagi ilmu pengetahuan, dedikasikanlah waktu, tenaga, juga pemikiran.

Prof. Zuhdi menganalogikan bahwa kita, pengurus yayasan, guru, dan tenaga kependidikan, berada di atas bahtera atau perahu. “Al-Falah bukan sekadar tempat bekerja. Ini adalah bahtera kita bersama,” jelasnya. Sebuah amanah besar dari para pendiri dan pendahulu yang menuntut kita untuk menjaga keutuhannya, melestarikan nilai-nilainya, dan memajukan institusinya secara kolektif. “Di atas bahtera ini tidak ada penumpang yang pasif. Kita semua duduk di posisi masing-masing dengan satu tugas mengayuh dayung menuju gerbang kemenangan,” kata Prof. Zuhdi dengan penuh ketegasan.

“Kita adalah penumpang di sebuah kapal,” ujar Prof. Zuhdi. Pimpinan dan pengurus yayasan ada di buritan memegang kemudi, para siswa ada di ruang penumpang, para guru dan tenaga kependidikan ada di sisi kiri-kanan kapal yang bertugas mendayung menggerakkan perahu, lalu kepala madrasah ada di bagian haluan yang terus menabuh memberi semangat kepada para penggerak perahu. Semuanya harus bekerja sesuai tugas masing-masing, bekerjasama, berkoordinasi, berkomitmen, agar kapal bisa terus melaju sampai pada tujuan yang ingin dicapai.

Dalam materinya, Prof. Zuhdi merinci tugas dari masing-masing penumpang kapal:

Di Buritan kemudi - Peran Pimpinan Yayasan:

1. Sebagai Fasilitator: Memastikan sarana dan prasarana tersedia dan layak untuk siswa belajar dan guru berkarya.

2. Sebagai Penjaga Nilai: Melestarikan nilai luhur pendiri Al-Falah dari generasi ke generasi.

3. Sebagai Pengawas Sistem: Memastikan semua unit berjalan sesuai fungsi. Menambal kebocoran perahu jika ada.

Di Haluan, Penentu Irama - Peran Kepala Sekolah dan Madrasah:

1. Sebagai Katalisator Individu: Mampu menggerakkan dan memastikan semua individu bekerja dan berkontribusi sesuai fungsinya.

2. Sebagai Pelindung Hak: Memastikan hak-hak siswa dan santri terjaga tersampaikan dan terpenuhi dengan sebaik-baiknya tanpa kompromi.

Di Sisi Kiri Kanan Perahu, Penggerak utama - Peran guru dan tenaga pendidik :

1. Berorientasi Pelayanan: Memberikan dedikasi terbaik murni untuk siswa-siswi kita.

2. Loyalitas Institusi: Bekerja tegak lurus dengan visi dan misi Yayasan

3. Integritas Mutlak: Nol toleransi terhadap pemanfaatan Al-falah untuk kepentingan pribadi yang merugikan siswa orang tua dan masyarakat.

Saat ini, lanjut Prof. Zuhdi, arena kompetisi (antarsekolah) terbuka. Lembaga-lembaga pendidikan berlari cepat untuk menjadi unggul. “Kecepatan bahtera Al-Falah murni ditentukan oleh kualitas kayuhan kita bersama,” tegasnya. Jika kayuhannya lambat, akan kalah bersaing. Sebaliknya, jika kayuhannya cepat, kita bisa bersaing dan maju. Selain itu ada pula ancaman dari luar. Seperti perkembangan teknologi, perubahan kondisi demografi, perubahan sosial budaya, perubahan kebijakan pemerintah, dan pertumbuhan lembaga lain. “Semua harus dhadapi dengan sungguh-sungguh, serempak, satu visi dan misi, dan dengan kekuatan penuh untuk finish terdepan.”

Yang juga perlu diperhatikan, ancaman dari dalam. Seharusnya, kata Prof. Zuhdi, kita bekerja sungguh-sungguh, penuh komitmen, dan berenergi. Bukan sekedar ada atau seolah-olah bekerja padahal tidak bekerja, apalagi menyalahgunakan wewenang sehingga merugikan klien dan lembaga. Jika ini terjadi, “Bukan sekadar kalah, bahtera bisa saja tenggelam,” ujar Prof. Zuhdi.

“Kemajuan Al-Falah ada di tangan kita semua. Kita harus saling mendukung, memotivasi, dan mengingatkan. Melalui komitmen mutlak dan kebersamaan yang kokoh, kita tidak hanya sekadar bertahan di arena kompetisi. Kita sedang mengayuh takdir Al-Falah yang sesungguhnya. Berprestasi dalam mencetak kader bangsa, unggul di tengah ketatnya persaingan pendidikan, dan bermanfaat secara luas bagi kemaslahatan umat,” tutup Prof. Zuhdi.