YTI Al-Falah — Yayasan Tarbiyah Islamiyah Al-Falah

Artikel

BerandaArtikelMemperingat Hari Sumpah Pemuda: Sumpah Kita Hari Ini, Tidak Menyebar Hoax, Tidak Menyebar Kebencian, Santun Bermedsos
Memperingat Hari Sumpah Pemuda: Sumpah Kita Hari Ini, Tidak Menyebar Hoax, Tidak Menyebar Kebencian, Santun Bermedsos
Artikel

Memperingat Hari Sumpah Pemuda: Sumpah Kita Hari Ini, Tidak Menyebar Hoax, Tidak Menyebar Kebencian, Santun Bermedsos

Irfan Hasuki28 Oktober 2026YTI Al-FalahDibaca 4 kali
Bagikan:

YTI-ALFALAH.ID Setiap 28 Oktober kita mengulang tiga kalimat keramat dari tahun 1928. Kita hafal di luar kepala. Tapi pernahkah kita bertanya: masihkah sumpah itu hidup di kolom komentar kita?

Jika pemuda 1928 bersatu untuk melawan penjajah yang terlihat, pemuda hari ini harus bersatu untuk melawan penjajah yang tak terlihat — yang hidup di dalam gawai kita sendiri.

Dulu: Kita Bersumpah Karena Berbeda Suku. Sekarang: Kita Bertengkar Karena Beda Layar.

Sumpah Pemuda lahir karena kesadaran. Jong Java, Jong Ambon, Jong Celebes sadar, selama mereka terkotak-kotak atas nama suku, mereka akan terus dijajah.

Hari ini, kotak-kotak itu muncul lagi dengan nama baru: algoritma.

Kita tidak lagi dikotakkan oleh pulau, tapi oleh linimasa. Kita merasa paling benar karena setiap hari disuguhi berita yang membenarkan keyakinan kita. Yang berbeda pendapat, kita anggap musuh. Inilah bentuk penjajahan baru: penjajahan pikiran.

Tiga Ancaman yang Menggerogoti Tiga Sumpah

Jika kita bedah, tiga pilar Sumpah Pemuda sedang retak satu per satu oleh perilaku kita di ruang digital:

1. "Bertumpah Darah yang Satu, Tanah Indonesia" - Retak oleh Hoax.

Bagaimana kita bisa mengaku satu tanah air jika kita dengan mudah menyebar berita bohong tentang saudara setanah air kita sendiri?

Hoax adalah senjata pemecah belah paling efektif hari ini. Satu judul provokatif, "Warga Suku A Serang Warga Suku B", cukup untuk membakar emosi, padahal setelah dicek, videonya kejadian di negara lain. Tanah kita sama, tapi hoax membuat kita merasa tinggal di tanah yang berbeda dan saling bermusuhan.

Hoax membuat kita curiga pada tetangga sendiri. Padahal dulu, pemuda bersumpah untuk percaya pada tetangganya yang berbeda suku.

2. "Berbangsa yang Satu, Bangsa Indonesia" - Retak oleh Ujaran Kebencian.

Dulu, untuk menjadi satu bangsa, para pemuda harus menahan ego kesukuan mereka. Sekarang, untuk tetap menjadi satu bangsa, kita harus menahan ego kebencian kita.

Ujaran kebencian di media sosial atas nama agama, ras, politik, bahkan selera, telah membuat kata "Bangsa Indonesia" terasa tipis. Kita lebih bangga menyebut "kubu saya" dan "kubu mereka" daripada "kita Indonesia".

Sumpah berbangsa satu hari ini bukan lagi soal KTP. Tapi soal hati: masihkah kita melihat orang yang beda pilihan politik sebagai bagian dari bangsa yang sama, bukan sebagai pengkhianat bangsa?

3. "Menjunjung Bahasa Persatuan, Bahasa Indonesia" - Retak oleh Lunturnya Kesantunan.

Para pemuda 1928 menjunjung bahasa Indonesia sebagai bahasa yang beradab, bahasa untuk berdiskusi dan bermusyawarah.

Lihatlah bahasa persatuan kita hari ini di ruang digital. Bahasa Indonesia menjadi bahasa caci maki, bahasa merendahkan, bahasa mem-bully. Kata-kata kasar, sarkas, dan tidak beretika menjadi normal.

Kita fasih berbahasa Indonesia, tapi kita kehilangan kesantunan Indonesia. Padahal kesantunan, tata krama, tepa selira, unggah-ungguh, adalah jiwa dari bahasa itu sendiri. Tanpa kesantunan, bahasa persatuan hanya menjadi alat untuk menyakiti, bukan untuk mempersatukan.

Lalu, Apa Sumpah Pemuda Kita Hari Ini?

Jika 1928 sumpahnya adalah untuk MELAHIRKAN Indonesia, maka sumpah pemuda 2026 adalah untuk MERAWAT Indonesia.

Maka, Sumpah Pemuda versi hari ini seharusnya berbunyi begini:

Kami putra dan putri Indonesia, bersumpah untuk tidak menyebar hoax, meski hoax itu menguntungkan kubu kami.

Kami putra dan putri Indonesia, bersumpah untuk tidak melontarkan ujaran kebencian, meski kami sangat membenci perbuatannya.

Kami putra dan putri Indonesia, bersumpah untuk menjaga kesantunan dan kesopanan, baik di dunia nyata maupun di dunia maya.

Persatuan tidak akan hancur oleh perbedaan pendapat. Persatuan hancur oleh cara kita yang tidak beradab dalam menyampaikan perbedaan itu.

97 tahun lalu, mereka bersumpah dengan darah dan air mata. Hari ini, mari kita buktikan sumpah itu masih hidup dengan tiga jari kita: jempol yang tidak asal like berita bohong, jari yang tidak asal ketik kebencian, dan hati yang tetap santun.